PORTAL ASURANSI TERPERCAYA
Senin - Jumat 08:00 - 17:00 WIB
021 806 00 828 / 0812-8362-7588
Senin - Jumat 08:00 - 17:00 WIB
021 806 00 828 / 0812-8362-7588

Penjelasan BMKG Mengenai Hujan di Pertengahan Tahun

Umum  |  02 July 2021  |   302 Pengunjung

Penjelasan BMKG Mengenai Hujan di Pertengahan Tahun

Umum  |  02 July 2021 Penjelasan BMKG Mengenai Hujan di Pertengahan Tahun

Indonesia negara dengan 2 musim, kemarau dan hujan, pada musim kemarau kali ini, berdasar prakiraan musi kemarau 2021, terdapat 342 Zona Musim, di negara ini sebagian besar masih menunjukkan wilayah yang diprakirakan mengalami awal musim panas 2021, pada rentang bulang Mei atau Juni 2021, hinigga 198 ZOM atau 57,9% dari 342 ZOM.

Sedang untuk puncak musim kemarau di 2021, sebagian besar wilayah Zona Musim (ZOM) malah diprakirakan terjadi pada Agustus 2021 hingga 67,3% atau 230 Zona.

Meski begitu, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) melalui stasiun Citeko Kabupaten Bogor Jawa Barat memprediksi bahwa tahun ini dominasi cuaca hujan efek dari La Nina.

Diketahui bahwa udara di lapisan atmosfer di atas (udara) masih lembab uap airnya, yang menyebabkan cuaca hujan akan lebih panjang pada tahun ini. Selanjutnya Fathuri menyebutkan kemarau yang seharusnya terjadi di bulan Mei dan atau awal Juni, akan mundur di akhir Juni bahkan bisa jadi Juli, selain mundur juga terjadi sebentar.

Di kutip dari laman Pikiran-Rakyat[dot]com efek La Nina adalah fenomena dimana menjadi penyebab permukaan lait di sekitar Indonesia masu hangat, sehingga kandungan uap air masih banyak di udara langit-langit Indonesia.

Baca Juga : Kenali Penyakit Menular di Cuaca Tak Menentu

Jadi, ketik terdapat gesekan di atmosfer sedikit saja, akan menjadi awan dengan potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang.

Sebelumnya telah diberikatan dengan peringatan dini yang di keluarkan pihaknya, meski tidak selalu menarik perhatian masyarakat, saat menginformasikan dampak Siklon Tropis Seroja.

Demikian, BMKG juga menyatakan dampak perubahan iklim global terhadap La Nina menyebabkan frekuensi cuaca ekstrem di Indonesia terjadi makin sering.(Arm)