PORTAL ASURANSI TERPERCAYA
Senin - Jumat 08:00 - 17:00 WIB
021 806 00 828 / 0812-8362-7588
Senin - Jumat 08:00 - 17:00 WIB
021 806 00 828 / 0812-8362-7588

Kenali Gejala Penyakit Autoimun

Gaya Hidup dan Kesehatan  |  17 June 2022  |   87 Pengunjung

Kenali Gejala Penyakit Autoimun

Gaya Hidup dan Kesehatan  |  17 June 2022 Kenali Gejala Penyakit Autoimun

Autoimun merupakan suatu kondisi di mana sistem imun atau kekebalan tubuh tidak dapat berfungsi secara optimal. Sistem imun sangat penting untuk melawan bakteri, infeksi virus, dan benda asing lainnya yang hendak menyerang tubuh. Bayangkan  jika imun Anda tidak dapat menjalankan fungsinya dengan normal. Tubuh Anda pastinya akan rentan terkena serangan berbagai penyakit.

Saking berbahayanya, penyakit autoimun termasuk dalam penyakit kronis yang secara bertahap dapat mengganggu kesehatan Anda.  Setidaknya ada 80 jenis penyakit yang digolongkan pada kondisi autoimun. Beberapa di antaranya memiliki gejala  autoimun yang mirip, seperti demam, kelelahan, dan nyeri otot.

Terdapat 80 jenis penyakit autoimun yang menunjukkan gejala yang sama. Hal tersebut terkadang menimbulkan kesulitan untuk mendiagnosis dan menentukan jenis penyakit yang diidap seseorang.  Di samping itu, beberapa penyakit ini belum dapat  dipastikan penyebabnya.

Belum diketahui secara persis apa yang menyebabkan autoimun. Menurut sebuah studi 2014, wanita lebih rentan mengalami penyakit autoimun dibandingkan pria. Sering kali penyakit dimulai selama tahun-tahun subur seorang wanita, yaitu usia 15-44 tahun. 

Gejala yang dirasakan penderita, bisa ringan dan bisa juga parah tergantung kondisi tubuh. Namun demikian, terdapat sejumlah gejala sama yang dirasakan penderita penyakit langka dan unik ini, seperti lelah berlebihan dan berkepanjangan (fatigue), kesemutan pada tangan dan kaki, nyeri di sekujur tubuh, sering terserang sariawan, rontok parah pada rambut, brain fog (otak seperti tertutup kabut, sehingga sulit konsentrasi, hilang memori dan fokus saat Anda sedang beraktivitas), serta ruam pada kulit (contohnya muncul ruam berbentuk kupu-kupu pada pipi). 

Penyakit autoimun umumnya lebih banyak menyerang wanita usia produktif, dimana faktor penyebabnya dapat berbeda antara satu penderita dengan yang lainnya. Bahayanya, penyakit autoimun ini bisa mengakibatkan kerusakan sel jaringan dalam tubuh dan menimbulkan peradangan serta mengakibatkan kondisi yang serius pada penderitanya, seperti gangguan pada tulang persendian, saraf, kelenjar, dan organ-organ penting lainnya.

Berikut beberapa jenis penyakit autoimun yang dikenal di dunia medis

  • Psoriasis penyakit autoimun ini ditandai dengan penumpukan sel kulit yang terjadi akibat sel- kulit yang tumbuh di dalam kulit tumbuh cepat dan segera naik ke permukaan hingga kulit menebal dan menumpuk di permukaaan kulit.
  • GBS atau Guillain-Barre Syndrome: penyakit autoimun ini menyerang saraf yang menghubungkan otak dan tulang belakang dengan seluruh. Akibatnya otak mengalami kesulitan untuk memberikan perintah pada saraf otot, hingga menimbulkan kelumpuhan.
  • Antibody Syndrome atau Antiphospholipid jenis penyakit autoimun ini bekerja dengan menyerang lapisan dalam pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya pembekuan darah pada saluran darah, baik saluran vena maupun arteri.

Gejala Penyakit Autoimun
Untuk mendiagnosis penyakit autoimun, dokter akan melakukan tanya jawab seputar gejala dan keluhan yang dialami pasien, riwayat kesehatan pasien, serta riwayat penyakit di dalam keluarga pasien. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.

  • Nyeri sendi. Bagian sendi yang paling sering diserang adalah sendi lutut, sendi di pergelangan tangan, punggung tangan hingga buku-buku jari. Nyeri ini terjadi di kedua sisi kiri dan kanan. Nyeri ini juga sering diiringi pembengkakan dan/atau kekakuan, sehingga membuat kamu sangat kesakitan dan sulit bergerak.
  • Kelelahan. Yaitu rasa lelah berlebihan dan berkepanjangan, seperti habis berlari jauh, membuat energi tubuh seperti terkuras habis. Bahkan untuk mengangkat badan dari tempat tidur saja terasa berat.
  • Lupus Eritematosus Sistemik: penderita yang mengalami serangan penyakit autoimun ini ditandai dengan tanda merah di bagian wajah seperti sepasang sayap kupu-kupu.

Sebagian besar penyakit yang tergolong penyakit autoimun belum dapat disembuhkan, tetapi gejala yang timbul dapat diringankan dan dicegah agar tidak terjadi flare. Pengobatan untuk menangani penyakit autoimun tergantung pada jenis penyakit yang diderita, gejala yang dirasakan, dan tingkat keparahannya. Beberapa metode penanganan yang dapat dilakukan adalah:

  • Obat penekan sistem kekebalan tubuh, seperti kortikosteroid, untuk menghambat perkembangan penyakit dan memelihara fungsi organ tubuh
  • Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti ibuprofen atau aspirin, untuk mengatasi nyeri
  • Obat anti-TNF, seperti infliximab, untuk mencegah peradangan akibat penyakit autoimun rheumatoid arthritis dan psoriasis

Penderita penyakit autoimun umumnya akan mengonsumsi obat yang memiliki efek untuk menekan sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, penderita penyakit autoimun lebih rentan terkena infeksi, termasuk COVID-19. Oleh karena itu, penderita penyakit  autoimun wajib menjaga kesehatan dan kontrol secara rutin ke dokter. Jangan lupa untuk rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, beristirahat yang cukup, serta mengelola stres dengan cara yang positif, sehingga sistem kekebalan tubuh bisa terjaga dengan baik.

Penyakit autoimun umumnya tak mudah didketahui kecuai ada gejala khusus yang menonjol. Tapi, masalah kesehatan ini bisa dideteksi lewat tes darah dan antibodi. Semakin dini penyakit dideteksi, semakin mudah penyakit ditangani dan kerusakan tubuh bisa diminimalkan. Jika ada gejala penyakit autoimun di atas, ditambah ada anggota keluarga yang mengidap penyakit autoimun, segera lakukan pemeriksaan ke dokter.

Persiapkan diri dari segala penyakit berbahaya lainnya, seperti autoimun ini dengan menjaga diri dari gaya hidup tidak sehat, termasuk menghindari konsumsi makanan minuman yang merusak tubuh termasuk rokok, hindari stress, tidur cukup, dan rutin untuk refreshing agar tidak stress, selanjutnya persiapkan asuransi kesehatan agar tidak menguras kantong apabila harus terus menerus berobat.(Arm)