PORTAL ASURANSI TERPERCAYA
Senin - Jumat 08:00 - 17:00 WIB
021 806 00 828 / 0812-8362-7588
Senin - Jumat 08:00 - 17:00 WIB
021 806 00 828 / 0812-8362-7588

Untuk yang enggan membeli asuransi properti

Properti  |  14 May 2022  |   54 Pengunjung

Untuk yang enggan membeli asuransi properti

Properti  |  14 May 2022 Untuk yang enggan membeli asuransi properti

Seringkali kejadian banjir, angin puting beliung ataupun kebanjiran menerpa suatu daerah, hingga menyebabkan kerugian finansial dari seorang yang mengalami kerugian propertinya seperti rumah, ataupun toko sebagai roda ekonominya.

Sehingga korban bencana tersebut hanya bisa menanti uluran tangan dari pemerintah, yang tentunya proses penyaluran bantuan tersebut membutuhkan waktu yang relatif lama, sehingga hal seperti ini baru saja terucap dalam hati, seandainya memiliki asuransi properti, sebelum menggali lebih jauh, kenapa ya orang jarang sekali mengasuransikan rumahnya, diantaranya adalah 

  1. Citra Asuransi 
  2. Hangusnya Pembayaran Premi 
  3. Kurangnya Literasi Keuangan

Asuransi dikenal sebagai produk yang kurang dibutuhkan, karena memang jarang kejadian, justru saat membeli asuransi, sebaiknya kita tidak perlu berharap uang pertanggungan cair, karena 
uang tersebut hanya akan cair apabila terjadi kerugian, yang mana akan ada penderitaan dari si pemilik properti.

Mengutip dari data OECD atau Organization for Economic Co Operation and Development, statistik yang membahas mengenai penetrasi asuransi,  bahwa Indonesia hanyalah mencapai 1,9% dalam penetrasi asuransi, pada 2017.

Padahal ditahun bersamaan, negara tetangga Singapura telah mencapai 9%, disusul Malaysia 4,5% Australia 4,1%, perhitungan tersebut adalah rasio premi asuransi jika dibanding PDB, dengan kata lain Indonesia sangat kurang akan minatnya terhadap asuransi, kenapa ?

Citra Asuransi 
Asuransi sudah mendapat citra buruk, dikalangan masyarakat Indonesia, karena seringnya dikaitkan dengan perusahaan asuransi seperti asuransi jiwa, dimana perusahaan tidak membayar kewajiban nasabah, penipuan dari agen asuransi, sampai bangkrutnya perusahaan asuransi, sehingga menciptakan Citra buruk "untuk apa berasuransi, kalau uang tidak dikelola dengan benar".

Hangusnya Pembayaran Premi
Di beberapa peraturan asuransi, dimana premi yang dibayarkan, sama dengan uang hangus, yaitu uang yang tidak kembali pada nasabah apabila risko yang dicover tidak terjadi, contoh kasus :
Pak Kholis membayar premi asuransi properti 500ribu untuk satu tahun, apabila rumahnya yang senilai 400juta kebakaran.

Sayangnya rumah tersebut baik-baik saja, maka uang 500ribu tersebut tentu menjadi hak milik perusahaan asuransi, dan pak Kholis tidak akan mendapatkan uangnya kembali, padahal, jika terjadi kebakaran di rumah pak Kholis tersebut, sudah tentu perusahaan asuransi akan membayar kerugian senilai yang dipertanggungkan.

Sayangnya, mindset tidak kembalinya uang yang dibayarkan tadi kesalahan cara berpikir, karena sudah tentu tidak terjadi insiden adalah hal yang paling baik, dari pada uang cair, namun terjadi insiden.

Kurangnya Literasi Keuangan 
Di Indonesia sendiri, literasi keuangan sangatlah rendah, pemahaman dan kesadaran masyarakat atas produk dan jasa keuangan formal, tentu sangatlah dibutuhkan untuk mencapai kemakmuran dan kemapanan keuangan, agar lebih sadar pentingnya produk asuransi properti, karena mengutip data OJK, literasi keuangan Indonesia pada 2019 hanyalah mencapai 38%, sebuah kenaikan sebesar 8% dari 2016.

Tentunya, menghindari risiko terjadinya kerusakan dan kerugian finansial akan kerusakan properti yang menimpa, membeli asuransi properti adalah langkah bijak untuk masyarakat Indonesia.(Armin)