PORTAL ASURANSI TERPERCAYA
Senin - Jumat 08:00 - 17:00 WIB
021 806 00 828 / 0812-8362-7588
Senin - Jumat 08:00 - 17:00 WIB
021 806 00 828 / 0812-8362-7588

Milenial dan Gen Z rawan alami gangguan Mental Health

Gaya Hidup dan Kesehatan  |  14 May 2022  |   78 Pengunjung

Milenial dan Gen Z rawan alami gangguan Mental Health

Gaya Hidup dan Kesehatan  |  14 May 2022 Milenial dan Gen Z rawan alami gangguan Mental Health

Mental breakdown atau gangguan mental, yang sering dialami gen Z atau Milenial, seringkali baru terdiagnosa, di kondisi-kondisi kritis, biasanya karena cukup lama diabaikan, sehingga saat 
sudah cukup parah, maka membutuhkan biaya dan effort ekstra untuk pengobatannya.

Maka itu sepatutnya perlu di sadari akan kebutuhan mentalh health, baik jiwa ataupun raga, baik diri sendiri maupun orang terdekat, dimulai dengan pertanda ringan seperti mulai banyak pikiran hingga stress, mengganggu jam tidur sampai kurang tidur dan tidak fokus akan rutinitas, sampai perasaan burnout, semua ini terjadi karena.

  1. Milenial dan Gen Z rawan mengalami Mental Breakdown
  2. Kesulitan adaptasi pada teknologi 

Sebaiknya dalam titik ini, sudah mulai sadar inti dari permasalahan, menyadari dalam hal ini seperti kualitas hidup, karena stress bisa terjadi pada siapapun, maka penanganan cepat sangatlah dibutuhkan,peran diri sendiri dengan keterbukaan pada orang terdekat, seperti orang tua adalah hal yang sangat membantu.

Sehingga dukungan dari keluarga ataupun orang terdekat, untuk mengunjungi dan meminta saran ahli professional akan sangat memberikan solusi, sehingga tidak perlu merasakan aib atau sesuatu yang tabu, jika mengalami gangguan mental, karena tidak sepenuhnya merusak nama baik sendiri ataupun keluarga.

Perasaan takut dikucilkan ataupun dijauhi adalah salah satu masalah besar yang menghalangi keterbukaan diri, biasanya takut dibully atau disebut gila, kesehatan mental juga sama seperti kesehatan fisikumumnya, seperti halnya terkena penyakit prostat atau HIV, tidak perlu malu, karena hal itu musibah yang bisa menerpa siapapun dan siapapun butuh pengobatan.

Dari berbagai kasus yang pernah terjadi, stigma buruk bahkan penerimaan diri yang palsu atas pribadi yang mengalami gangguan mental, seringkali membuat diri menjauh dari orang terdekat,
menganggap diri tidak berdaya, tidak berani konsultasi ke psikolog / psikiater.

Padahal jika terus dibiarkan, hal ini akan sangat membahayakan pasien, karena penyakit ini tidak bisa sembuh secara otomatis seperti kita saat terkena flu, terlebih gejala pada penyakit mental 
yang lebih spesifik, sangatlah sulit disembuhkan, bahkan jika terlambat penanganannya, maka penyakit akan semakin parah.

Milenial dan Gen Z rawan mengalami Mental Breakdown
Dikutip dari WHO, dimana lebih dari 50% penyakit mental, sering terjadi pada remaja masa kini, sejak usia 14 tahun, dari penyakit dini yang tidak tertangani dengan baik, diawali dari stress berkepanjangan, depresi, self-harm, hingga keinginan bunuh diri, yang tertinggi di usia 15 - 29 tahun.

Di rentang usia 20 - 40, seseorang memiliki keinginan untuk tampil dan menunjukkan kemampuan diri untuk pencarian jati dirinya di masa mendatang, dalam fase perubahan fisik, finansial, lingkungan pergaulan, psikologis dan emosional yang begitu cepat, seringkali membentuk pribadi yang akan matang nantinya, tapi rawan mengalami gangguan mental.

Contoh, ditahap lulus sekolah dan akan menempuh perguruan tinggi, namun akan berurusan dengan permasalahan keuangan, jika yang ingin merasakan dunia kerja sembari kuliah, tentu akan merasakan persaingan dunia kerja yang keras dan proses mencari kerja yang sulit, kerap kali membandingkan diri hingga timbul rasa iri dengan teman seusianya.

Maka, bimbingan, dorongan positif orang tua, hingga perhatian dari keluarga besar atau orang terdekat, sangatlah membantu untuk mempersiapkan masa depannya.

Kesulitan adaptasi pada teknologi 
Lingkungan yang berubah cepat dan dinamis, salah satunya yaitu berkembang pesatnya teknologi yang menuntut adaptasi pengguna, namun sayangnya milenial dan gen z tidak bisa mengimbangi dan memanfaatkan dengan baik, alih-alih untuk belajar, malah sering mengadu masalah pribadi dan membuat keributan di platform sosial media.

Sisi lain positifnya adalah membuat konten bermanfaat yang bisa dikonversi menjadi nominal rupiah, namun golongan ini hanya beberapa diantara sekian juta pengguna umum yang sifatnya bermain sosial media untuk membuang waktu.

Sosial media sangat bermanfaat untuk membuah konektivitas atau silaturahmi, sayangnya, malah disalahgunakan menjadi kehidupan fatamorgana atau kebahagiaan palsu dengan memamerkan beberapa sisi kehidupan glamour dalam feed atau story instagram maupun whatsapp, yang biasanya cenderung berbanding terbalik dari realitanya, semua demi membangun image semua, sehingga berhasil membuat pengguna lain iri,atau pengguna pamer kesemuan tersebut semakin menderita narcistik.

Dukungan terhadap dua kalangan ini, khususnya pada warga kota besar yang seringkali mengalami mental breakdown, dapat dimulai dengan sekedar menanya kabar, menjadi teman dekat yang selalu ada, menjadi pendengar atas beberapa keluhannya, namun dengan tidak membuatnya merasa digurui atau didikte, apalagi sampai menghakimi atau mendepat opininya.

Hal ini sering mereka alami, terlebih saat berinteraksi di media sosial, seperti kata-kata nyinyir, dan perlunya mengurangi komentar atas reaksi para gen Z atau milenial atas masalah yang dihadapinya, para orang tua cukup menasihati dengan kalimat yang mengayomi, tanpa membandingkan masalah yang pernah dihadapi di usia yang sama, karena tentu hal itu berbeda zaman.

Dibutuhkan dorongan dari pihak keluarga dan kesadaran internal dari si penderita, untuk pengobatan ke psikolog, meskipun biaya konsultasi, dalam durasi 1 jam mencapai 250-750 ribu rupiah,
namun terdapat bantuan dari BPJS, yang bisa merujuk ke puskesmas terdekat, jika tidak tentu bantuan pihak asuransi swasta akan menjadi solusi, maka segera hubungi broker asuransi terpercaya.(Arm)